Setelah Wapres Ngopi di ”Negeri Atas Awan”

 BPost Radio Banjarmasin,  01-02-2017 10:23:00

  

                                                                                                                                                                                Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Nyonya Mufidah Jusuf Kalla (kanan) dan Menteri Pariwisata Arief Yahya (kiri) menikmati pemandangan di Negeri di Atas Awan dataran tinggi Lolai, Toraja Utara, Sulawesi Selatan

Wakil Presiden Jusuf Kalla sebenarnya sudah ingin sekali melihat seperti apa Lolai, ”Negeri di Atas Awan” di Kecamatan Kapala Pitu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Namun, karena tak ada penerbangan langsung dari Jakarta, dalam kunjungan kerjanya akhir pekan lalu, Wapres Kalla harus bersabar menempuh jalan berputar menuju Lolai.

Pertama, Wapres Kalla harus terbang terlebih dahulu ke Makassar, Sulsel. Dari sana, ia harus ganti Pesawat Kepresidenan Boeing 737-400 dengan CN 295 ke Kabupaten Luwu, Sulsel, sebelum melanjutkan perjalanan darat hampir tiga jam untuk tiba di Lolai.

Meskipun Matahari sudah telanjur tinggi, Senin (23/1/2017) pagi, Wapres Kalla masih menyaksikan kabut tebal menyelimuti Lembah To’tombi dari ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut.

Diselubungi kabut tipis putih di sekitarnya, Kalla bisa menyaksikan perkampungan, yang beberapa tahun lalu masih sepi. Kini, kampung itu semarak dan ekonominya menggeliat pasca adanya Lolai.

Setelah upacara penyambutan adat oleh Bupati Toraja Utara (Torut) Kalatiku Paembonan dan diselempangkan kain bertuliskan ”Negeri di Atas Awan”, Wapres Kalla tak mau menunggu lagi.

Didampingi Nyonya Mufidah, Wapres Kalla langsung menuju tepi Lembah Lolai yang tertutup kabut. Di situ, Wapres Kalla dan Mufidah berdiri, dan seolah-olah berada di atas awan.

Beberapa kali Kalla pun berdecak kagum. ”Luar biasa indahnya. Kalau di Pegunungan Himalaya, Tibet, ini namanya Shangrila, artinya negeri di atas awan. Ternyata, di Indonesia pun ada,” tutur Kalla saat dikerubungi pewarta foto.

Wajah Bupati Tana Toraja (Tator) Nicodemus Biringkanaeng dan Kalatiku langsung tampak semringah saat Wapres memuji keindahan Lolai.

Menurut Nicodemus, selain Lolai, di Tator, sebenarnya juga ada ”Negeri di Atas Awan” Pango-Pango. Meskipun juga indah, Wapres Kalla tak punya waktu datang ke sana karena informasi Pango-Pango baru diketahui setelah tiba di Tator.

Namun, bagi kedua bupati, pujian Wapres Kalla memperkuat tekad mengembangkan kedua tujuan wisata tersebut. Bayangan turis mancanegara dan domestik datang berbondong-bondong tentu akan ikut memajukan dan menyejahterakan warga.

Wapres lalu mengajak kedua bupati, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Gubernur Sulsel Syahril Yasin Limpo, yang menyertai kunjungan kerjanya, ikut duduk santai. Mereka menyeruput kopi seraya menikmati hawa sejuk dan keindahan Lolai.

”Negeri di Atas Awan seperti di Lolai itu tak banyak di Indonesia. Oleh karena itu, pemberian alam itu harus dijaga dan dikembangkan agar dapat memberi kesejahteraan bagi penduduk. Nah, tidak lengkap kalau menikmati Negeri di Atas Awan tidak sambil ngopi,” ujar Kalla sambil terkekeh.

 

Bpostradio.com – Wakil Presiden Jusuf Kalla sebenarnya sudah ingin sekali melihat seperti apa Lolai, ”Negeri di Atas Awan” di Kecamatan Kapala Pitu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan.

Namun, karena tak ada penerbangan langsung dari Jakarta, dalam kunjungan kerjanya akhir pekan lalu, Wapres Kalla harus bersabar menempuh jalan berputar menuju Lolai.

Pertama, Wapres Kalla harus terbang terlebih dahulu ke Makassar, Sulsel. Dari sana, ia harus ganti Pesawat Kepresidenan Boeing 737-400 dengan CN 295 ke Kabupaten Luwu, Sulsel, sebelum melanjutkan perjalanan darat hampir tiga jam untuk tiba di Lolai.

Meskipun Matahari sudah telanjur tinggi, Senin (23/1/2017) pagi, Wapres Kalla masih menyaksikan kabut tebal menyelimuti Lembah To’tombi dari ketinggian 1.300 meter di atas permukaan laut.

Diselubungi kabut tipis putih di sekitarnya, Kalla bisa menyaksikan perkampungan, yang beberapa tahun lalu masih sepi. Kini, kampung itu semarak dan ekonominya menggeliat pasca adanya Lolai.

Setelah upacara penyambutan adat oleh Bupati Toraja Utara (Torut) Kalatiku Paembonan dan diselempangkan kain bertuliskan ”Negeri di Atas Awan”, Wapres Kalla tak mau menunggu lagi.

Didampingi Nyonya Mufidah, Wapres Kalla langsung menuju tepi Lembah Lolai yang tertutup kabut. Di situ, Wapres Kalla dan Mufidah berdiri, dan seolah-olah berada di atas awan.

Beberapa kali Kalla pun berdecak kagum. ”Luar biasa indahnya. Kalau di Pegunungan Himalaya, Tibet, ini namanya Shangrila, artinya negeri di atas awan. Ternyata, di Indonesia pun ada,” tutur Kalla saat dikerubungi pewarta foto.

Wajah Bupati Tana Toraja (Tator) Nicodemus Biringkanaeng dan Kalatiku langsung tampak semringah saat Wapres memuji keindahan Lolai.

Menurut Nicodemus, selain Lolai, di Tator, sebenarnya juga ada ”Negeri di Atas Awan” Pango-Pango. Meskipun juga indah, Wapres Kalla tak punya waktu datang ke sana karena informasi Pango-Pango baru diketahui setelah tiba di Tator.

Namun, bagi kedua bupati, pujian Wapres Kalla memperkuat tekad mengembangkan kedua tujuan wisata tersebut. Bayangan turis mancanegara dan domestik datang berbondong-bondong tentu akan ikut memajukan dan menyejahterakan warga.

Wapres lalu mengajak kedua bupati, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Gubernur Sulsel Syahril Yasin Limpo, yang menyertai kunjungan kerjanya, ikut duduk santai. Mereka menyeruput kopi seraya menikmati hawa sejuk dan keindahan Lolai.

”Negeri di Atas Awan seperti di Lolai itu tak banyak di Indonesia. Oleh karena itu, pemberian alam itu harus dijaga dan dikembangkan agar dapat memberi kesejahteraan bagi penduduk. Nah, tidak lengkap kalau menikmati Negeri di Atas Awan tidak sambil ngopi,” ujar Kalla sambil terkekeh.

Sumber : Kompas.comметоды prотзовикотзывы полигонfor hair

Komentar

Counting


LATEST TUNE-IN